| Hajar dan Isma'il |
| Ditulis Oleh Administrator | |
| Wednesday, 19 November 2008 | |
|
Siti Hajar dan Isma’il Bagi muslim yang menunaikan ibadah haji atau umrah, pasti mengenal Bukit Shafa dan Marwah. Dari dan ke kedua bukit itulah jamaah berlari kecil bolak-balik untuk melaksanakan salah satu rukun ibadah haji dan umrah yaitu Sai. Dan, itulah peristiwa napak tilas Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS ketika mencari mata air untuk diminumnya sebab ia sangat haus setelah menyusui bayinya Ismail. Ketika itu pula, Hajar melihat wajah bayinya pucat pasi akibat kekurangan air.
Siti Hajar Ketika Nabi Ibrahim merasa makin sempit kehidupannya di Negeri Syam, ia memutuskan hijrah ke Mesir bersama istrinya Sarah. Ketika itu pemerintah Mesir dikuasai Bangsa Hyksos (Amalekites). Hajar adalah istri kedua Nabi Ibrahim Khalilullah, semula putri Bangsa Qibti (Mesir) yang diberikan oleh Fir’aun kepada istrinya yang pertama, Sarah. Hajar berasal dari Ummul Arab, sebuah kota di Mesir Timur sekitar dua mil dari Laut Merah.
Isma’il Pada mulanya Sarah mandul. Ia sedih, apalagi Nabi Ibrahim sangat mengharapkan keturunan, sedangkan usia Sarah semakin lanjut, tidak ada harapan untuk melahirkan anak. Sarah mendorong Nabi Ibrahim untuk beristri lagi dan menganjurkan Hajar untuk diperistri. Hajar kemudian melahirkan seorang putra, yaitu Isma’il. Sarah memohon kepada Ibrahim untuk menjauhkan Hajar beserta anaknya (Isma’il) darinya. Dengan berat hati sang Khalilullah Ibrahim AS mengabulkan permintaan dari isteri pertamanya itu. Nabi Ibrahim membawa istrinya Hajar dan anak semata wayangnya Isma’il menuju suatu lembah yang tidak ada rumput yang tumbuh sekalipun dan hanya meninggalkan sedikit air. Setelah Nabi Ibrahim menempatkan anak dan istrinya itu kemudian Ibrahim berbalik badan untuk kembali lagi ke daerah asalnya. Nabi Ibrahim bergegas pulang dengan menitikkan air mata, namun ia tidak menoleh ke belakang walaupun istrinya Hajar berkali-kali memanggilnya. Nabi Ibrahim tidak memperdulikan panggilan dari isterinya dan tetap melanjutkan langkahnya yang berat. Hajar mengejar suaminya dan berkata, ”Apakah Allah yang memerintahkan kepadamu untuk melakukan ini?”. Ibrahim menjawab pendek, ”Benar”. Maka keluarlah suatu pernyataan dari Hajar yang melukiskan ketegaran dan ketawakalan jiwanya, ”Kalau Allah yang memerintakan demikian ini, niscaya Dia tidak akan menyia-nyiakan kami”. Itulah suatu pernyataan yang keluar dari seorang hamba yang menunjukkan kekuatan iman dan ketinggian sikap tawakalnya yang mendapat tarbiyah dari seorang hamba yang pilihan juga, Ibrahim sang Kekasih Allah. Siti Hajar adalah seorang salihah dan tawakkal dalam menghadapi ujian hidup, termasuk ketika ditinggalkan Ibrahim bersama putranya di Makkah. Keduanya hanya dibekali sebuah gariba berisi kurma dan gentong berisi air. Ibrahim kemudian melanjutkan perjalanan untuk pulang ke Palestina. Ketika sampai di daerah Tsaniyah, Ibrahim menghadap ke tempat yang nantinya dibangun Baitullah. Ia berdoa: رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ ﴿٣٧﴾ Artinya: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah Mu, (Yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS Ibrahim: 37).
Mata Air Zamzam Tempat yang paling pertama didatangi Hajar untuk mencari air adalah Shafa, sebuah bukit dekat lembah Makkah. Hajar cukup lama berdiri di atas bukit itu, mengharap ada orang yang terlihat di lembah untuk dimintai tolong. Namun harapannya sia-sia. Maka, ia menuruni Bukit Shafa dan melewati sebuah lembah hingga ke Bukit Marwah. Kembali ia cukup lama berdiri di atas sana dengan harapan sama. Karena tak kunjung melihat orang lewat, perempuan tua itu pun bolak-balik berlari di antara dua bukit tersebut. Selanjutnya Hajar menyusui Isma’il dan persediaan minumnya habis. Setelah itu Hajar sangat kehausan, begitu juga anaknya. Hajar pergi mencari air, bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali dengan harapan ada orang yang terlihat untuk dimintai kebaikan, namun tidak ada seorang pun yang terlihat olehnya. Ketika berada dibukit Marwah, tiba-tiba Hajar mendengar suara tak berwujud: "Cukuplah engkau menangis!" Hajar segera berlari mencari arah suara itu. Hajar mendengar lagi suara tersebut lalu ia berkata: "Aku mendengar suaramu. Jika engkau dapat membantu, bantulah aku!". Tiba-tiba Hajar melihat Malaikat Jibril di dekat Ismail terbaring. Jibril menginjak-injakkan kakinya ke tanah hingga muncul mata air, yaitu zamzam. Maka Hajar segera membendung mata air itu dengan tangannya untuk minum. Setiap kali air tersebut diciduk, semakin bertambah banyak. Hajar meminum air itu sehingga dapat menyusui anaknya. Malaikat Jibril berkata: "Engkau jangan takut terbengkalai di sini karena tempat ini akan dibangun rumah Allah oleh anak ini dan ayahnya. Allah tidak akan menyia-nyiakan penghuni rumah ini. Rumah itu akan menjulang tinggi di atas muka bumi. Seperti lembah datar yang didatangi air, begitulah rumah itu dikunjungi oleh manusia."
Mimpi Ibrahim Ketika Nabi Ibrahim kembali ke Makkah menemui Hajar dan Ismail, beliau terperanjat melihat tempat itu menjadi daerah subur-makmur dan Hajar telah bahagia hidupnya. Hajar pun menceritakan halnya itu kepada suaminya dan Ibrahim pun memuji kebesaran Allah SWT, yang telah mengabulkan doanya. Suatu hari Nabi Ibrahim bermimpi disuruh Allah SWT menyembelih anaknya, Ismail. Lalu ia bermusyawarah dengan anak istrinya. Berkata Ismail: "Ayahku! Apabila ini merupakan waktu yang harus kita taati, maka saya pun rela untuk disembelih." Setelah ketiganya bersepakat, keesokan harinya perintah itu mereka laksanakan. Isma’il dalam keadaan telungkep siap disembelih, kedua mata Nabi Ibrahim ditutup kain. Di tangannya siap pedang hendak memotong leher Isma’il. Maka, menyemburatlah darah ke badan Nabi Ibrahim. Dengan sifat manusiawinya beliau gemeter membayangkan keadaan anaknya yang kepalanya terpisah dari badannya. Alangkah terkejut dan bercampur gembira setelah kain penutup mata beliau dibuka, ternyata bukan Isma’il melainkan seekor kambing yang tersembelih. Sedangkan Ismail berada di sisi ayahnya, Ibrahim. Dengan memuji kebesaran dan kekuasaan Tuhan, berangkulanlah anak beranak itu dengan penuh syukur. Kemudian keduanya pulang ke rumah. Di sepanjang jalan keduanya terus membaca takbir dan tasbih memuji dan memuja Allah. Siti Hajar mendengarkan suara takbir yang makin lama makin dekat. Ternyata itu adalah suara suami dan anaknya. Ia pun terperanjat, sambil belari menyongsong mereka. Hajar seorang perempuan yang taat kepada Allah, tidak terpedaya oleh godaan setan.
|